Komitmen : Sebuah Pengingat
Era modern seperti sekarang, banyak orang mudah berkata manis nan
indah. Ucapan-ucapan yang dilontarkan pun bermacam-macam, rayuan, iming-iming,
maupun berupa janji-janji manis yang mempesona, hingga dapat membuat banyak
orang terpikat.
Orang mudah mengucapkan janji-janji dan membuat sebuah komitmen,
namun miskin yang dapat menepati dan merealisasikannya. Ini bukanlah yang tabu
dan aneh, bahkan mungkin sudah menjadi hal yang biasa, khususnya di panggung
politik. Tapi menurut saya, akan menjadi hal yang sangat tidak wajar apabila
ini terjadi di kehidupan masyarakat sehari-hari.
Masyarakat yang notabene tahu bahwa, tidak menepati janji atau
mengingkari sebuah komitmen yang sudah dibuat adalah hal yang sangat dilarang,
bukan hanya oleh hukum adat, pun oleh agama. Bagi saya arti sebuah janji dan
komitmen itu sama, sama-sama harus direalisasikan dalam kehidupan nyata.
Makna komitmen sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Pemahaman yang saya dapat
dari pengertian tersebut, bahwasannya komitmen itu sesuatu yang harus tampak
dalam tindakan kita, dan merupakan sikap sebenarnya yang berasal dari
kepribadian kita.
Contoh nyata sebuah komitmen adalah keberpihakan seseorang kepada seseorang
lainnya atau kelompok yang merekrutnya. Sehingga dalam menjalankan pekerjaannya
ia sangat yakin dan menerima tujuan yang harus dicapai oleh perekrut. Ketika
tujuan yang ditentukan tidak tercapai, maka ada konsekuensi yang harus
diterima, konsekuensi yang telah disepakati sebelumnya.
Untuk meminimalisir adanya penghianatan dari salah satu pihak,
biasanya komitmen ditulis diatas kertas. Ini merupakan bukti tertulis, yang
dapat dijadikan sebagai landasan penuntutan apabila salah satu pihak melakukan penghianatan.
Komitmen tidak tertulis atau hanya diucapkan, biasanya mudah menguap dan
dilupakan.
Komitmen merupakan janji, janji adalah kewajiban yang harus
ditunaikan. Apabila tak ditunaikan, otomatis mempunyai hutang. Perkara janji
dengan Tuhan maka diselesaikan dengan-Nya pula, perkara janji dengan manusia
maka diselesaikan dengan sesama manusia. Selesaikanlah di dunia, apabila tidak
ingin diselesaikan di akhirat kelak.
Komitmen jualah yang menjadi pengikat antara manusia dengan sang
Maha Pencipta, ini terjadi ketika di alam ruh, agar manusia tidak lupa dan
mengelak akan Tuhannya, seperti yang dijelaskan dalam qur’an surat al-A’raaf
ayat 172. “…’Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab ‘Betul (Engkau ini
Tuhan kami), kami menjadi saksi.’…”
Komitmen bukanlah suatu yang negatif, ia hanya menjadi pelecut
semangat dan pengingat, agar seseorang menjadi lebih baik. Tanpa komitmen orang
mudah terlena dan lupa, karena fitrah manusia ialah pelupa, maka harus ada
sesuatu yang mengingatkan.
Komitmen itu baik, jika kita
memandangnya sebagai suatu hal yang positif. Menjalankan sebuah komitmen
bukanlah hal yang mudah, terlebih jika kita bukanlah orang yang taat dan sadar
akan balasan jika menghianatinya.
Komentar
Posting Komentar