WHEN LIFE'S WAY IS SO HARD
Inikah kerangkeng manusia modern ? yang terperangkap dalam limbah modernisasi tanpa memperoleh substansinya.
Saya kehilangan makna, manusia kosong, selalu resah tiap kali harus mengambil keputusan, saya tak tahu apa yang diinginkan, dan belum mampu memilih jalan hidup yang diinginkan, saya terasing. Bagaikan orang yang telah lama terkurung dalam kerangkeng. Frustasi, dan berada dalam ketidakberdayaan.
Saya hampir tak mampu lagi merencanakan masa depan. Entah apakah ini skenario sosial ? agar terikat dan selalu mengikutinya.
seperti berjuang keras untuk memenuhi kebutuhanku, tapi sebenarnya saya diperbudak oleh keinginan orang lain, mengejar apa yang diharapkan oleh orang lain agar saya mengejarnya.
Begitulah diriku sekarang. Melakukan sesuatu bukan karena ingin melakukannya, saya sibuk meladeni keinginan orang lain, sampai saya lupa kehendak saya sendiri.
Seperti mempunyai ratusan topeng yang siap dipakai dalam berbagai event sesuai dengan skenario, dan saking seringnya menggunakan topeng sampai saya lupa wajah asli milik saya sendiri.
hidup ini jahat, siap memangsa siapa saja yang ada didepannya. tak kenal lawan dan kawan. Engkau bodoh maka siap-siaplah dibodohi dan diperbudak.
senyum mereka tidak lagi seindah senyum fitri seorang bayi, tetapi lebih sebagai make-up. Tawanya tak lagi spontan seperti tawa ceria kanak-kanak dan remaja, tetapi tawa yang diatur sebagai bedak untuk memoles kepribadiannya. Tangisnya tidak lagi merupakan rintihan jiwa, tetapi lebih merupakan topeng untuk menutupi borok-borok ahlaknya, dan kesemuanya sudah diprogram kapan harus tertawa dan kapan harus menangis. kepeduliannya hanyalah kepura-puraan, yang agar orang lain merasa nyaman tak berontak.
To be continued................
Saya kehilangan makna, manusia kosong, selalu resah tiap kali harus mengambil keputusan, saya tak tahu apa yang diinginkan, dan belum mampu memilih jalan hidup yang diinginkan, saya terasing. Bagaikan orang yang telah lama terkurung dalam kerangkeng. Frustasi, dan berada dalam ketidakberdayaan.
Saya hampir tak mampu lagi merencanakan masa depan. Entah apakah ini skenario sosial ? agar terikat dan selalu mengikutinya.
seperti berjuang keras untuk memenuhi kebutuhanku, tapi sebenarnya saya diperbudak oleh keinginan orang lain, mengejar apa yang diharapkan oleh orang lain agar saya mengejarnya.
Begitulah diriku sekarang. Melakukan sesuatu bukan karena ingin melakukannya, saya sibuk meladeni keinginan orang lain, sampai saya lupa kehendak saya sendiri.
Seperti mempunyai ratusan topeng yang siap dipakai dalam berbagai event sesuai dengan skenario, dan saking seringnya menggunakan topeng sampai saya lupa wajah asli milik saya sendiri.
hidup ini jahat, siap memangsa siapa saja yang ada didepannya. tak kenal lawan dan kawan. Engkau bodoh maka siap-siaplah dibodohi dan diperbudak.
senyum mereka tidak lagi seindah senyum fitri seorang bayi, tetapi lebih sebagai make-up. Tawanya tak lagi spontan seperti tawa ceria kanak-kanak dan remaja, tetapi tawa yang diatur sebagai bedak untuk memoles kepribadiannya. Tangisnya tidak lagi merupakan rintihan jiwa, tetapi lebih merupakan topeng untuk menutupi borok-borok ahlaknya, dan kesemuanya sudah diprogram kapan harus tertawa dan kapan harus menangis. kepeduliannya hanyalah kepura-puraan, yang agar orang lain merasa nyaman tak berontak.
To be continued................
Beh, kiasannya anak UIN mah gini ya. hmmm. Coba bed, dibaca lagi kata-katanya kayak ada yang kurang. hehe.
BalasHapusapa yang kurang ? kurang nyambung ? kasih tau aja
HapusKiasannya saya suka. Hahaha. Apa lagi pas "seindang senyum FITRI" bwahaha
BalasHapushahaha
Hapus